Naffisa Adyan Fekranie

Apr 8

Haruskah Kita Khawatir Tentang Gunung Es Raksasa yang Pecah di Antartika?

To read this article in English, click here

Sebuah gunung es raksasa, kira-kira 7,5 kali ukuran Kota Bandung, terlepas dari bagian utara Paparan Es Brunt Antartika pada hari Jumat tanggal 26 Februari.

Gunung es raksasa yang terpecah di Antartika

Sumber: The Europian Space Agency (ESA) [6]

Ahli glasiologi telah memantau dengan seksama beberapa retakan yang telah terbentuk di rak es ini selama beberapa tahun terakhir, dan pecahan yang terjadi sudah diperkirakan beberapa minggu sebelum kejadian [1].

Namun, Survei Antartika Inggris (BAS) mengatakan tidak ada bukti bahwa perubahan iklim berperan dalam kejadian ini, karena secara alami gunung es terlepas dari Antartika ke laut [2].


Baca juga: Karbon Biru: Peran Laut sebagai Penyerap Karbon


Lalu, apakah artinya kita tidak perlu mengkhawatirkan terpecahnya gunung-gunung es ini?

Terpecahnya gunung es terjadi secara alami dan sangat penting untuk menjaga keseimbangan lapisan es. Namun, aktivitas manusia yang tidak terkendali telah berakibat pada peningkatan emisi total, yang mempercepat proses pecahnya gunung-gunung es.

Selain itu, lapisan es di Greenland dan Antartika adalah penyumbang terbesar terhadap kenaikan permukaan air laut global. Saat ini, lapisan es Greenland menghilang empat kali lebih cepat dari tahun 2003 dan telah menyumbang 20% ​​dari kenaikan permukaan air laut saat ini. Seberapa luas dan seberapa cepat lapisan es Greenland dan Antartika ini mencair di masa depan akan sangat menentukan tingkat kenaikan permukaan air laut di masa depan.

Gunung es di Samudra Arktik

Sumber: Annie Sprat [7]

Para ilmuwan memperkirakan, jika emisi terus meningkat, es di Kutub Utara bisa sepenuhnya mencair pada tahun 2040 dan hal ini akan berdampak buruk pada tingkat permukaan air laut global [3].

Meskipun permukaan laut telah berfluktuasi selama 4,6 miliar tahun dalam sejarah Bumi, para ilmuwan menunjukkan bahwa kenaikan permukaan air laut global telah menyimpang dari tingkat rata-rata selama dua hingga tiga ribu tahun terakhir [4].

Selain itu, kenaikan permukaan air laut bukan satu-satunya hal yang diakibatkan oleh meningkatnya kecepatan pencairan lapisan es di kutub. Mencairnya lapisan es juga mengubah suhu dan salinitas air, yang mungkin mempengaruhi sabuk konveyor samudra global [5]. Ilmuwan percaya bahwa sabuk konveyor lautan global berperan penting dalam menyeimbangkan iklim global, dalam kata lain, mencairnya lapisan es juga akan mengganggu pola cuaca di seluruh dunia. Industri perikanan yang sedang berkembang pesat akan terpengaruh buruk karena air yang lebih hangat dapat mengubah pola reproduksi ikan. Masyarakat pesisir juga akan terkena dampak negatif karena banjir yang intens akan terjadi lebih sering.

Terlebih lagi, satwa liar seperti beruang kutub dan walrus kehilangan habitatnya dan kemungkinan akan mengalami kepunahan jika es terus mencair. Jadi, untuk menjawab pertanyaan sebelumnya, ya, kita semua harus khawatir dan bertanya kembali pada diri sendiri, "Bagaimana cara kita mengatasinya?"


Baca juga: Beginilah Bagaimana Mikroplastik Membahayakan Margasatwa (dan Kita Juga)!


Sumber:

[1]https://www.esa.int/ESA_Multimedia/Images/2021/03/Giant_iceberg_breaks_off_Brunt_Ice_Shelf_in_Antarctica

[2] https://www.dw.com/en/massive-iceberg-breaks-off-from-antarctica/a-56721362

[3] https://www.worldwildlife.org/pages/why-are-glaciers-and-sea-ice-melting

[4] https://www.nationalgeographic.com/environment/article/big-thaw

[5] https://www.nationalgeographic.com/environment/article/big-thaw

Gambar:

[6]https://www.esa.int/ESA_Multimedia/Images/2021/03/Giant_iceberg_breaks_off_Brunt_Ice_Shelf_in_Antarctica#.YFysRNoxA0E.link

[7] https://unsplash.com/photos/Vsg5L7spmf0

    1