Search

Merawat Organ Bumi yang Sekarat: Terumbu Karang

To read this blog in English, click here.

Apa kamu tahu 8 Mei adalah Hari Terumbu Karang Nasional?

Terumbu karang yang sehat di Okinawa, Jepang

Hirohiko Yishii [16]

Semua orang tampaknya tahu ke mana harus pergi dan apa yang harus dilakukan ketika ingin melihat keindahan ekosistem bawah laut, tetapi ironisnya tidak banyak yang tahu betapa pentingnya mereka untuk kelangsungan hidup kita. Karena itu, sangatlah penting untuk membicarakan pelestarian terumbu karang sebelum semuanya terlambat.


Terumbu karang yang ada di dasar laut jumlahnya kurang dari 1 persen, tetapi mereka memberi kehidupan untuk lebih dari 25 persen organisme laut [1]. Sebagai “hutan hujannya” laut, mereka juga menyediakan banyak manfaat untuk kelangsungan hidup manusia seperti perikanan, perlindungan, dan pariwisata. Namun, satu kenyataan yang tidak dapat disangkal adalah kita telah memperlakukan mereka seenaknya.


Penangkapan Ikan Secara Destruktif Menyedihkan

Onggokan ikan segar

Oziel Gomez [17]


Perikanan adalah salah satu industri dengan populasi paling tinggi dan paling banyak diminta di seluruh bagian dunia. Penangkapan dengan dinamit dan racun, sesuai dengan namanya, menimbulkan ancaman serius bagi seluruh ekosistem laut karena mereka membunuh terumbu karang secara instan. Metode tradisional seperti jaring ikan juga dapat merusak jika dibuang begitu saja ke dasar laut [2]. Ketika jumlah suatu spesies ikan menurun, terumbu karang juga akan mati karena tidak dapat hidup tanpa penghuni dan sebaliknya.


Beberapa orang telah melakukan apa yang mereka bisa untuk menjaga ekosistem laut yang sehat, melalui terobosan konservasi, rehabilitasi, dan restorasi. Di Australia, perawatan di tengah laut diterapkan untuk menumbuhkan lebih banyak karang [3] dan sebuah drone bawah laut dikembangkan untuk mengumpulkan telur-telur karang yang akan menempatkannya di area yang tidak terganggu agar dapat tumbuh sehat [4]. Indonesia juga memiliki beberapa organisasi yang melakukan restorasi terumbu karang dengan sangat baik.


Gili Eco Trust

  • Telah membuat lebih dari 120 struktur biorock di Gili Trawangan [5], sebuah teknologi yang memungkinkan karang tumbuh lebih kuat dan lebih cepat dengan menempelkannya pada struktur baja dengan arus tegangan rendah [5].

Biorock Indonesia

  • Telah membantu dalam pengembangan biorock dan keterlibatan publik melalui program-program seperti sukarelawan, program penelitian, dan bahkan wisata pendidikan di Bali [6].

Yayasan TERANGI

  • Menerapkan Clarees (Clay Artificial Reef System), sebuah program rehabilitasi di Pulau Tunda, sebelah utara Selat Banten [7].

  • Mirip dengan biorock, Clarees memberikan fondasi yang stabil bagi karang untuk tumbuh dan hidup kembali dengan lebih cepat.


Wisata Pesisir Perlu Bersifat Edukatif dan Sustainable

Pemandangan wisata daerah pesisir yang cantik

10 Star [18]


Terumbu karang adalah salah satu alasan kita dapat hidup di daerah pesisir karena strukturnya melindungi kita dari gelombang brutal, badai, dan banjir, dan ketidakhadirannya tentu saja membahayakan jiwa kita [8]. Kegiatan wisata pantai seperti kios cinderamata, perahu dan kapal pesiar, dan pengembangan pesisir apapun dapat membahayakan hidup kita.


Kasus kapal pesiar yang menghancurkan terumbu karang Raja Ampat pada tahun 2017 adalah salah satu kasus memilukan tentang pariwisata yang bersifat merusak. Ketika kapal itu ditarik di laut yang sedang surut, 1.600 meter terumbu karang dilaporkan rusak parah oleh The Jakarta Post [9]. Pemilik kapal diminta kompensasi hingga $ 1,92 juta, tetapi terumbu karang masih perlu 50 hingga 100 tahun untuk bisa pulih [10]. Kesehatan karang bernilai lebih dari segalanya.

Selain berhati-hati, memilih agen wisata yang terpercaya dan terhormat adalah hal lain yang bisa kita lakukan untuk melindungi lingkungan. Agen wisata, dengan bantuan pemerintah setempat, perlu juga mendidik wisatawan tepat seperti yang telah dilakukan oleh organisasi-organisasi ini:


Coral Oasis Foundation

  • Membangun konservasi laut yang disebut “Desa Nemo” (Kampung Nemo) di Sabang, sebagai bagian dari kampanye “Selamatkan Pulau Weh” mereka.

  • Bertujuan untuk menyediakan dan melestarikan habitat baru, menambah dan mendorong warga setempat untuk terlibat langsung, dan mempromosikan pariwisata lokal dengan membangun rumah yang serupa untuk ikan nemo [11].

Yayasan Terumbu Rupa

  • Menempatkan struktur terumbu karang buatan di Lombok, Wakatobi, dan Jakarta Utara agar organisme laut dapat hidup dan tumbuh.

  • Menekankan "ART" (seni) dalam artifisial, mereka menggunakan dasar laut sebagai medium instalasi seni, berharap untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya terumbu karang [12].


Suhu Yang Terus Meningkat Memperburuk Pemutihan Karang (Coral Bleaching)

Terumbu karang yang sekarat tanpa adanya makhluk laut lain di sekitarnya

Jeremy Bishop [19]


Faktor terakhir tetapi salah satu yang paling penting, namun tidak mengejutkan, adalah perubahan iklim. Karang adalah organisme yang sangat sensitif, sedikit perubahan suhu saja dapat sangat mempengaruhi kesehatannya. Ketika laut menjadi lebih hangat, ganggang (zooxanthellae) yang membuat mereka tetap hidup menjadi stres, berubah putih, dan akhirnya mati jika tidak dirawat [13].


Alternatifnya, para ilmuwan dari University of Melbourne telah bekerja sama dengan Yayasan Tiffany & Co untuk mengembangkan pelindung matahari ultra tipis yang akan melindungi karang di bawahnya [14]. Lapisan ini dapat didaur ulang secara alami dan mengurangi paparan cahaya hingga 30 persen, menjaga karang dari sinar matahari yang terik secara langsung. Satu organisasi Indonesia juga terlibat dalam melindungi karang dari kerusakan akibat sinar matahari yang terik:


Reef Check Indonesia

  • Membuat halaman informasi dan panduan yang didedikasikan untuk coral bleaching lokal, bersama-sama dengan Tim Pemutihan Karang Indonesia di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan.

  • Warga dapat mengisi laporan online untuk coral bleaching di dekat mereka [15]. Laporan akan ditindaklanjuti dan tindakan akan diambil.


Namun, karang yang sehat dapat tahan terhadap bleaching, membuktikan pentingnya peran rehabilitasi dan konservasi dalam meningkatkan kesehatan ekosistem. Terumbu karang sangat mirip dengan hutan karena kita semua memiliki hubungan simbiosis yang sama, andai saja kita lebih semangat untuk melestarikannya.


Sekarang Giliranmu

Seorang penyelam dengan peralatan lengkap

Pia [20]


Meskipun menumbuhkan karang tidak semudah menumbuhkan pohon, karena membutuhkan lebih banyak waktu, dedikasi, keterampilan, dan pengetahuan, bantuan apa pun yang bisa kamu lakukan sama pentingnya. Mendukung yayasan seperti yang telah kami sebutkan adalah cara yang paling mudah untuk dilakukan.


Beberapa yayasan seperti Gili Eco Trust dan Yayasan Terumbu Rupa memiliki panduan donasi di situs web mereka, sementara organisasi lain seperti TERANGI sesekali membuka kampanye Kitabisa.com untuk setiap proyek. Kamu juga dapat mengadopsi bayi karang atau taman karang di Biorock Indonesia. Menyelamatkan nyawa dari ujung jari Anda.


Kalau kamu adalah tipe yang terlibat langsung, kamu selalu dapat menghubungi yayasan untuk bergabung dengan mereka sebagai sukarelawan, pekerja magang, atau bahkan penyelam. Reef Check Indonesia, Biorock Indonesia, dan Gili Eco Trust terbuka untuk peluang ini.



Apa yang kamu ingin kami tulis selanjutnya? Tulis DI SINI!



Editor: Christopher Randy


Sumber

[1] https://coral.org/coral-reefs-101/coral-reef-ecology/coral-reef-biodiversity/

[2] https://reefresilience.org/overfishing-and-destructive-fishing-threats/

[3] https://newheavenreefconservation.org/learning-resources/explore-topics/reef-restoration-methods

[4] https://www.eni.com/en-IT/technologies/coral-reef-recovery.html

[5] http://giliecotrust.com/biorock/

[6] http://www.biorock-indonesia.com/programs/biorock-garden/

[7] https://terangi.or.id/index.php/aktivitas/140-rehabilitasi-terumbu-karang-dengan-clarees-clay-artificial-reef-system

[8] https://oceanservice.noaa.gov/facts/coral_protect.html

[9] https://www.thejakartapost.com/news/2017/03/13/cruise-ship-smashes-into-coral-in-raja-ampat.html

[10] https://www.straitstimes.com/asia/se-asia/50-years-needed-to-restore-raja-ampat-coral-reef-destroyed-by-cruise-ship-indonesian

[11] https://coraloasisfoundation.wordpress.com/

[12] https://ytr.or.id/

[13] https://oceanservice.noaa.gov/facts/coral_bleach.html

[14] https://www.ft.com/content/3ee62fd6-4361-11e8-803a-295c97e6fd0b

[15] http://reefcheck.or.id/bleaching-indonesia/


Foto

[16] Hirohiko Yishii https://unsplash.com/photos/9y7y26C-l4Y

[17] Oziel Gomez https://www.pexels.com/photo/photo-of-pile-of-fish-1578445/

[18] 10 Star https://www.pexels.com/photo/aerial-photography-of-sea-913112/

[19] Jeremy Bishop https://www.pexels.com/photo/underwater-photography-of-ocean-2397651/

[20] Pia https://www.pexels.com/photo/person-on-body-of-water-3046582/

#terumbukarang #terumbukarangindonesia #pelestarianterumbukarang #restorasiterumbukarang #teknologibiorock

© 2020 by PROJECT PLANET. Most Rights Reserved.