Search

Pembalut dan Tampon: Tumpah Ruah Plastik.

To read this article in English, click here.


Jakarta - Wanita rata-rata menggunakan 20 pembalut atau tampon per bulan atau 240 pembalut atau tampon dalam waktu satu tahun. Jika dikalikan dengan tahun menstruasi yaitu 40 tahun, maka total produk yang dipakai seorang wanita selama masa hidupnya adalah 9.600. Ada 3,5 miliar wanita di seluruh dunia, pada akhirnya ini akan menghasilkan limbah yang sangat banyak [1].


Pembalut Sekali Pakai

Pembalut baru dengan sayap berperekat

Sumber: Polina Zimmerman [10]


Pembalut sekali pakai adalah produk berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bahan penyerap yang seringkali dilengkapi dengan penutup berperekat (disebut sebagai sayap) yang menempel di bagian luar celana dalam supaya pembalut tetap pada tempatnya dan mencegah kebocoran atau noda [2,3]. Ada baiknya apabila pembalut diganti setelah 6-8 jam untuk mencegah infeksi bakteri, bahkan lebih sering selama hari-hari dimana aliran darahnya berat [4].

Salah satu manfaat terbesar ketika memakai pembalut adalah minimnya risiko Toxic Shock Syndrome (TSS) karena wanita tidak perlu memasukkan apapun ke dalam vagina [2]. Toxic Shock Syndrome adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang masuk ke dalam tubuh dan mengeluarkan racun berbahaya yang dapat mengancam nyawa [5].


Selain itu, pembalut sekali pakai sangat mudah digunakan terutama bagi remaja perempuan yang baru saja mulai menstruasi. Pembalut sekali pakai tersedia dalam berbagai ukuran yang dapat mengakomodasi segala macam aktivitas [2].


Namun, pembalut sekali pakai merupakan salah satu penyumbang sampah terbesar di Indonesia. Selain itu, pembalut sekali pakai mudah bergeser dari tempatnya atau menjadi kusut jika tidak dipasang dengan benar sehingga dapat menyebabkan kebocoran atau noda. Yang terakhir, wanita yang mengenakan pembalut juga tidak bisa berenang dan terkadang bentuk pembalut dapat terlihat saat memakai jenis pakaian tertentu [2].


Merek Umum: Charms, Laurier, Kotex


Tampon

Tampon-tampon baru

Sumber: Polina Zimmerman [11]


Tampon adalah kapas berbentuk silinder yang dimasukkan ke dalam vagina wanita saat menstruasi. Tampon memiliki tali yang terpasang di ujung untuk membantu menariknya keluar dan beberapa jenis tampon bahkan lengkap dengan aplikator untuk membantu dalam proses masuknya tampon [3]. Perlu dicatat bahwa tampon harus diganti dalam 4 hingga 8 jam [6].


Salah satu pro menggunakan tampon adalah ukurannya karena cukup kecil sehingga mudah untuk dibawa. Jika tampon dimasukkan dengan benar, tidak akan timbul rasa ketidaknyamanan. Nyatanya, sejumlah wanita yang telah menggunakan tampon mengakui bahwa mereka bahkan tidak merasakan adanya tampon saat menggunakannya. Keuntungan terbesar adalah wanita dapat menggunakan tampon saat mereka pergi berenang tanpa takut bocor atau terjatuh [2].


Seperti pembalut sekali pakai, salah satu kekurangan dalam menggunakan tampon adalah dampak lingkungannya. Pengguna tampon juga memiliki risiko kecil mendapat TSS yang sering dikaitkan dengan tampon jenis ‘sangat menyerap’. Selain itu, pengguna juga mungkin merasa tidak nyaman saat memasukkan tampon dan terkadang tampon juga menyebabkan iritasi atau kekeringan pada vagina [2,6].


Merek Umum: Natracare, OB, Tampax

Baca Juga: Menstrual Cup dan Pembalut Kain: Panduan Utama Menuju Menstruasi Ramah Lingkungan

Mengapa produk menstruasi sekali pakai sangat merugikan lingkungan?


Plastik digunakan dalam semua aspek kehidupan modern termasuk produk menstruasi. Tidak hanya karena kemasan, tetapi desain produk menstruasi juga meningkatkan tingkat limbah yang dihasilkan.


Walaupun pembalut sekali pakai dan tampon sangat nyaman untuk dipakai, produk-produk tersebut mempunyai dampak lingkungan yang cukup besar. Contohnya, menanam dan memanen kapas yang digunakan untuk memproduksi pembalut sekali pakai dan tampon memerlukan air dalam kuantitas banyak [1]. Terlebih daripada itu, pembalut sekali pakai dan tampon juga akan dibungkus dengan plastik yang terbuat dari polietilen.


Pembalut yang belum dibuka dan masih tertutup dengan pembungkus plastiknya

Sumber: Polina Zimmerman [12]


Khususnya untuk pembalut sekali pakai, desainnya memanfaatkan termoplastik tipis yang fleksibel dan anti-bocor sebagai bahan dasarnya dan kemudian dikombinasikan dengan fitur perekat yang dapat memungkinkan alas untuk dipasang pada celana dalam. Sayap yang membantu menahan pembalut di tempatnya terbuat dari serat poliester tipis untuk membantu mengalirkan darah ke area penyerap [7,8].


Pembalut tidak hanya mengandung bahan kimia berbahaya bagi wanita dan lingkungan, tetapi juga mengandung jumlah plastik yang sama dengan empat kantong plastik [7]!

Tampon tidak jauh berbeda: bagian penyerap menggunakan pecahan plastik kecil yang merupakan lapisan tipis yang menyatukan bagian kapas; talinya terbuat dari termoplastik; aplikator juga terbuat dari plastik yang dibentuk menjadi bulat halus, tipis dan fleksibel. Fitur-fitur tersebut tidak hanya buruk bagi lingkungan tetapi juga dapat menggores lapisan vagina yang kemungkinan menyebabkan infeksi, pertumbuhan bakteri dan TSS [7,8].


Seperti yang telah diketahui plastik mempunyai daya tahan yang sangat lama dan memiliki bahan kimia yang berbahaya yang mengalir keluar dan meresap hingga ke air tanah [1]. Kurangnya bahan non-biodegradable dan bahayanya terhadap lingkungan, sebuah pembalut sekali pakai memerlukan waktu 500-600 tahun untuk terurai [9]. Lebih parahnya lagi, sebagian besar wanita cenderung membuang pembalut sekali pakai ke toilet setelah yang pada akhirnya akan mencemari lautan ketika saluran air gagal bekerja [8].


Kesimpulan


Terlihat jelas bahwa pembalut sekali pakai dan tampon mengandung plastik dan bahan kimia yang berbahaya bagi wanita dan juga lingkungan. Dengan polusi plastik terus mengancam lingkungan, ada baiknya jika perubahan segera dimulai. Kabar baiknya adalah masyarakat mulai sadar akan adanya alternatif yang lebih “hijau” seperti pembalut kain dan menstrual cup.

Ingin membahas topik ini lebih lanjut? Tulis di forum kami DISINI.

Sumber:

[1] https://www.1millionwomen.com.au/blog/powerful-environmental-reasons-switch-menstrual-cup/

[2] https://www.healthline.com/health/tampons-vs-pads

[3] https://www.plannedparenthood.org/learn/health-and-wellness/menstruation/how-do-i-use-tampons-pads-and-menstrual-cups

[4] http://www.stayfree.com/femininehygienefaq/lists/2_about-pads/how-often-should-i-change-my-feminine-pad

[5] https://www.nhs.uk/conditions/toxic-shock-syndrome/

[6] https://www.healthline.com/health/how-often-should-you-change-your-tampon#the-short-answer

[7] https://www.huffpost.com/entry/feminine-hygiene-products_b_3359581

[8] https://www.nationalgeographic.com/environment/2019/09/how-tampons-pads-became-unsustainable-story-of-plastic/

[9] https://www.downtoearth.org.in/blog/waste/is-green-menstruation-possible--64796


Gambar:

[10] https://www.pexels.com/photo/close-up-of-sanitary-pad-3958556/

[11] https://www.pexels.com/photo/tampons-on-table-3958518/

[12] https://www.pexels.com/photo/close-up-of-pantyliner-and-sleep-mask-3958545/


#zerowaste #menstruasi #pembalut #tampon #limbahplastic #produkkebersihanwanita

© 2019 by PROJECT PLANET. Most Rights Reserved.