Search
  • Ahmad Muzaki Syafii

Sampah Rumah Tangga: Dipisahkan Dengan Bahagia!


Pemilahan sampah merupakan salah satu solusi untuk mengurangi persentase sampah rumah tangga

Source: Krizohn Rosales [8]


To read this article in English, click here!


Tahukah kamu berapa banyak sampah diproduksi setiap hari di Indonesia? Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016 [1], timbulan sampah yang dihasilkan oleh Indonesia mencapai angka 65,200,000 ton setiap tahunnya dan sebagian besar adalah sampah domestik, yaitu sebesar 62% [2].


Meningkatnya jumlah penduduk Indonesia serta tingkat konsumsi menjadi dua faktor utama. Menurut riset terbaru dari Sustainable Waste Indonesia (SWI), saat ini masih ada 24% sampah yang belum berhasil dikelola dengan baik dan benar [3]. Hal ini berarti bahwa sampah masih belum dikelola secara baik karena banyaknya sampah yang belum dipilah sejak awal prosesnya. Hal ini berimbas pada banyaknya sampah yang berakhir di sungai ataupun dibuang ke lautan [4].


Dengan sampah yang begitu menumpuk, pengelolaan yang baik menjadi sangat krusial. Pengelolaan sampah yang buruk dapat menyebabkan segala jenis sampah bercampur-aduk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang mengakibatkan terjadinya kontaminasi material sehingga material tersebut semakin sulit untuk didaur ulang. Hal ini memiliki dampak besar bagi lingkungan, termasuk bocornya sampah plastik ke lautan.


Maka dari itu, peran kita sebagai masyarakat Indonesia sangatlah penting untuk menyelesaikan permasalahan ini, salah satunya adalah dengan melakukan pemilahan sampah rumah tangga. Dengan memilah sampah, kita dapat meningkatkan persentase daur ulang serta mengurangi beban tempat pembuangan akhir yang semakin melebihi kapasitas!


Selain itu, pemilahan sampah di rumah juga berarti kita dapat mengubah sampah organik menjadi kompos yang dapat berguna untuk berkebun maupun dijual sebagai pupuk organik [5]. Sampah Non-organik juga dapat dikumpulkan untuk ditukarkan dengan uang ataupun barang di Bank Sampah.


Berikut adalah 4 tips dalam mengelola sampah rumah tangga dan mengurangi jejak karbon kita:


1. Memilah sampah sesuai dengan jenisnya

Persentase pemilahan sampah rumah tangga di Indonesia berada di angka 49.2%

Source: Jasmine Sessler [9]


Seperti yang kita ketahui, sampah dapat dikategorikan menjadi dua yaitu sampah organik dan anorganik. Untuk memudahkan memilah sampah, sebaiknya siapkan lebih dari satu tempat sampah.


Hal tersebut dapat membuka mata kita dan melihat berapa banyak sampah rumah tangga kita hasilkan setiap harinya serta memotivasi kita untuk mengubah gaya hidup! Bagi para pemula, kalian dapat memulai dengan mengacu pada peraturan Solid Waste Management (SWM) 2016 [6] yang memilah sampah menjadi tiga kategori yaitu: sampah organik, sampah daur ulang, dan sampah “lainnya” (berbahaya & tidak dapat didaur ulang).


2. Ubah sampah organik menjadi kompos dan makanan bagi hewan

Indonesia merupakan negara penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia

Source: Radoslaw Prekurat [10]


Sampah manusia merupakan harta bagi makhluk hidup lainnya. Contohnya, sisa makanan yang seringkali kita buang merupakan makanan yang disukai seperti monyet pada gambar di atas!


Selain itu, sampah organik juga dapat bermanfaat bagi lingkungan. Bagaimana caranya? Sampah organik seperti sisa makanan dapat dibuat menjadi kompos, yang selain mengurangi sampah sisa makanan juga dapat menyuburkan tanaman dan tanah secara organik.


Baca juga: Food for Thought: Semakin Sedikit Limbah Makanan, Planet Akan Semakin Bahagia


3. Ubah limbah menjadi keuntungan!

Dari 175,500 ton sampah yang dihasilkan setiap harinya di Indonesia, hanya 3% berhasil didaur ulang

Source: Nick Fewings [11]


Daur ulang sampah sebenarnya dapat dijadikan sebuah prospek bisnis yang menguntungkan! Sebagai contoh, kita dapat mengumpulkan jenis sampah yang dapat didaur ulang seperti kardus, plastik, limbah elektronik, maupun perabot bekas dan menukarkannya di Bank Sampah atau menjualnya kembali di toko barang bekas ataupun sebuah perusahaan daur ulang. Hebat bukan? Limbah yang seringkali kita anggap tidak bernilai ternyata sangat berharga apabila kita terus memilahnya dan membersihkannya untuk menghindari terjadinya kontaminasi!


4. Buang limbah yang berbahaya dan tidak dapat didaur ulang

Pembuangan limbah berbahaya yang tidak tepat dapat mencemari tanah dan air

John Cameron [12]


Sayangnya, tidak semua barang dapat didaur ulang atau digunakan kembali. Misalnya beberapa plastik yang terlalu tipis, atau yang sudah terkontaminasi dengan produk makanan. Itulah mengapa pilihan terbaik untuk barang-barang tersebut adalah mengatakan tidak atau mengurangi jumlah konsumsi kita.


Ada juga limbah berbahaya yang harus dibuang karena berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup, baik itu hewan maupun manusia melalui tanah, air sungai, bahkan udara! [7]. Jadi, jangan membuang limbah ini sembarangan, terutama di tengah pandemi seperti sekarang dimana , kita harus melindungi petugas sampah yang bergantung pada timbulan sampah di tempat pembuangan sampah. Maka dari itu, pastikan kalian membaca panduan untuk membuang bahan berbahaya seperti barang-barang yang mengandung bahan kimia, cat, dan limbah medis (mis. masker, perban, sarung tangan, dll).


Dari empat tips di atas, langkah apa yang telah kalian ambil? Pemilahan sampah bukan satu-satunya solusi yang ditawarkan untuk mengurangi volume sampah yang semakin membengkak. Yang paling penting adalah kita harus mulai membiasakan diri untuk mengurangi kebiasaan konsumtif kita dan beralih ke gaya hidup yang lebih ramah lingkungan seperti gaya hidup Zero Waste.


Semua masalah, tidak peduli seberapa besar, dapat diselesaikan jika kita bersatu. Oleh karena itu, mari kita mulai mengelola limbah rumah tangga kita sehingga kita dapat meninggalkan Bumi yang hijau dan sehat untuk generasi berikutnya.


Seperti dikatakan Pete Seeger , seorang aktivis lingkungan, "Jika tidak dapat dikurangi, digunakan kembali, diperbaiki, dibangun kembali, diperbaiki, disempurnakan, dijual kembali, didaur ulang, atau dibuat kompos, maka itu harus dibatasi, dirancang, atau dihapus dari produksi."

Baca juga: Love-Hate Relationship antara Indonesia dan Plastik

Jika kalian punya tips lain untuk dibagikan, kalian dapat mengunjungi forum kami DISINI

Sumber:

[1] https://www.bps.go.id/publication/2018/12/07/d8cbb5465bd1d3138c21fc80/statistik-lingkungan-hidup-indonesia-2018.html

[2] https://ekonomi.bisnis.com/read/20190221/99/891611/timbulan-sampah-nasional-capai-64-juta-ton-per-tahun

[3] https://katadata.co.id/timpublikasikatadata/infografik/5e9a4c4a336e0/menuju-indonesia-peduli-sampah

[4] https://www.thejakartapost.com/academia/2019/03/01/the-waste-challenge-is-indonesia-at-a-tipping-point-1551431355.html

[5] https://wastewise.be/2015/10/segregation-first-step-keeping-60-waste-landfill/

[6] http://cercenvis.nic.in/PDF/waste_seg_eng.pdf

[7] https://www.nationalgeographic.com/environment/global-warming/toxic-waste/


Foto:

[8] https://www.pexels.com/photo/person-hands-on-assorted-color-plastic-lid-lot-761297/

[9] https://unsplash.com/photos/CIItgnBEOgw

[10] https://unsplash.com/photos/AuuQ_Rtk6Bo

[11] https://unsplash.com/photos/ywVgG0lDbOk

[12] https://unsplash.com/photos/0kpPu9WPVmU


#lingkungan #pemilahansampah #sampahrumahtangga

© 2020 by PROJECT PLANET. Most Rights Reserved.