Search

Seaspiracy: Rahasia Gelap pada Industri Perikanan

To read the article in English, click here!


Seaspiracy menceritakan hal yang mengejutkan yang terjadi pada industri perikanan global, menantang konsep “perikanan berkelanjutan” dan menjawab pertanyaan yang paling kita takuti yaitu: Bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan lautan kita?



Jaring ikan adalah pelaku terbesar dalam pencemaran plastik di laut

Sebut saja: Lautan kita muak dengan plastik sekali pakai. Namun berbeda dengan pendapat umum, sedotan plastik bukanlah biang keladinya.


Meskipun jarang dibahas, terdapat 46% jaring ikan pada Pulau Sampah Pasifik Besar di Samudera Pasifik Utara. Tak perlu dikatakan lagi bahwa mereka sangatlah merusak kehidupan laut, terutama ketika terurai menjadi mikroplastik


Maka dari itu, banyak yang harus industri perikanan kerjakan untuk membereskan kekacauan mereka [1].

Baca juga: Beginilah Bagaimana Mikroplastik Membahayakan Margasatwa (dan Kita Juga)!

Tetapi, penangkapan ikan berlebih mengalahkan plastik sebagai pelaku pada lautan kita

Plastik di lautan merupakan permasalahan serius, tapi terdapat ancaman lain yang merusak ekosistem dan mendorong beberapa spesies menuju kepunahan – penangkapan ikan secara berlebihan


Sekitar sepertiga dari perikanan dunia ditangkap secara berlebihan [2]. Pada kunjungan ke Taiji di bagian selatan Jepang, Tabrizi menemukan bahwa lumba-lumba dibantai dikarenakan terlalu banyak memakan ikan. Tentu saja mereka hanyalah menjadi kambing hitam atas keserakahan perusahaan dan penangkapan secara berlebihan.


Menurut Sea Shepherd, hingga 10.000 lumba-lumba yang ditangkap di lepas pantai Atlantik Perancis setiap tahun sebagai tangkapan sampingan [3].


Jika hal tersebut tidak cukup memilukan, para ahli meyakini bahwa populasi paus dari manapun telah menurun antara 60% dan 90% [4].

“Dengan mengekstraksi ikan secara terus menerus dari lautan kita, pada dasarnya Anda melakukan deforestasi di lautan kita dengan tidak hanya menghilangkan ikan, tetapi juga tindakan pemindahan, metode pembuangannya merusak habitat, ekosistem” – Richard Oppenlander, penulis Food Choice and Sustainability.

Masalahnya, lumba-lumba dan paus sangatlah penting dalam menyeimbangkan temperatur dunia, karena ketika mereka naik ke permukaan laut untuk bernafas, mereka menyuburkan fitoplankton yang tiap tahunnya dapat menangkap empat kali jumlah carbon dioksida (CO2), daripada yang dilakukan oleh hutan hujan Amazone [5].


Di dunia yang sangat peduli akan perubahan iklim, keselamatan hewan-hewan tersebut sangatlah penting.


Rahasia dibalik Budidaya Ikan

Kita mungkin berpikir bahwa budidaya ikan lebih berkelanjutan daripada penangkapan ikan di alam liar, namun prospeknya tidaklah lebih baik. Contohnya, ketika Tabrizi menyamar ke peternakan salmon Skotlandia, bau busuknya sangat menyengat. Salmon tersebut memiliki infestasi kutu, penyakit menular, dan bahkan klamidia.


Fakta mengejutkan lainnya? Salmon yang dibudidayakan sebenarnya berwarna abu-abu jika tidak diberi makan berbahan kimia yang memberikan warna pink yang tersohor tersebut.


Yikes!


Bluewashing pada Industri Perikanan

Tabrizi juga menyoroti bagaimana sertifikasi berkelanjutan seperti label Dolphin Safe dan Marine Stewardship Council kurang jujur. Ditanya dalam film apakah dia bisa menjamin bahwa setiap kaleng ikan berlabel “dolphin safe” sebenarnya aman bagi lumba-lumba, Mark J. Palmer dari Earth Island Institute berkata: “Tidak. Tidak ada yang bisa. Begitu Anda berada di lautan, bagaimana Anda tahu apa yang mereka lakukan? Kami memiliki pengamat di kapal – pengamat tersebut dapat disuap.”

“Label seringkali mengaburkan apa yang sebenarnya terjadi di laut,” – Kapten Peter Hammarstedt, Sea Shepherd Conservation Society.

Jadi kapanpun Anda ingin membeli tuna yang berlabel aman untuk lumba-lumba dikarenakan lebih berkelanjutan, pikirlah ulang kembali.

Baca juga: Resep Vegan Mudah yang Dapat Kamu Buat dalam 15 Menit atau Kurang! Dengan The Green Butcher

Hei, nyawa manusia juga dipertaruhkan

Anda mungkin pernah mendengar tentang berlian darah, tetapi istilah “udang berdarah” sekarang menjadi perhatian besar. Seperti yang dibahas di dokumentari tersebut, industri perikanan Thailand dilaporkan menggunakan perbudakan tenaga buruh untuk menangkap udang. Seorang mantan nelayan yang diwawancarai dalam film dokumenter tersebut menggambarkan bagaimana dia dianiaya dan diancam dengan todongan senjata, menduga mayat nelayan lainnya disimpan di lemari pendingin dan siapapun bekerja disana hanya membutuhkan beberapa detik saja untuk dilempar ke laut.

Di seluruh dunia ada banyak armada penangkap ikan yang memiliki kondisi yang sangat eksploitatif, seperti budak. Hingga saat ini, sangat sedikit yang dilakukan untuk mengatasi kondisi ini di mana pun.” - Matthew Friedman, UNIAP [6]

Sebagai kesimpulan, Tabrizi menyimpulkan bahwa untuk menghentikan kegilaan ini, kita harus berhenti makan makanan laut sepenuhnya. Tapi, apakah itu benar-benar mungkin?


Iya. Selama peraturan tidak ditegakkan dengan benar dan oknum-oknum jahat masih berkeliaran, kita harus prihatin tentang bagaimana kecintaan kita pada makanan laut dapat merusak lingkungan dan masa depan kita. Dan jangan khawatir, karena sekarang ada makanan laut nabati, jika pemikiran memakan makanan laut sepenuhnya membuat Anda takut. Jadi, marilah kita ambil langkah menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan dengan mengubah kebiasaan makan kita!

Kunjungi forum kami jika ada pertanyaan!


Sumber:

[1]https://www.worldwildlife.org/stories/our-oceans-are-haunted-by-ghost-nets-why-that-s-scary-and-what-we-can-do--23

[2]https://www.worldwildlife.org/pages/plastic-is-not-the-biggest-problem-for-oceans

[3] https://www.seashepherdglobal.org/our-campaigns/dolphin-bycatch/

[4] https://esajournals.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1890/130220

[5]https://www.imf.org/external/pubs/ft/fandd/2019/12/pdf/natures-solution-to-climate-change-chami.pdf

[6]https://www.humanrightsatsea.org/slavery-at-sea/


0 comments