Search

SOS: Menyelamatkan Lautan dengan Menggunakan Masker Pakai Ulang

To read this article in English, click here.


Jakarta - Sejak pandemi COVID-19 dimulai, setiap bulan manusia menghasilkan 129 miliar sampah masker dan 65 miliar sarung tangan sekali pakai [1].


Masker bekas ditemukan di pantai

Sumber: Jonathan Farber [9]


Saat ini, seluruh dunia sedang berjuang mencegah menyebarnya virus COVID-19 dengan melakukan “lockdown” atau memberlakukan pembatasan yang ketat yang mengharuskan masyarakat untuk menerapkan jaga jarak aman, larangan perjalanan (travel ban) dan yang terpenting, memakai masker di tempat umum.


Menteri Kesehatan telah menekankan kewajiban setiap warga untuk patuh terhadap protokol kesehatan terutama penggunaan masker untuk mencegah penularan virus. Di sisi lain, kurangnya pemahaman masyarakat bagaimana membuang alat pelindung diri (APD) setelah pakai juga memicu lonjakan polusi dan limbah yang akhirnya membanjiri jalanan dan lautan sehingga kehidupan laut serta kesehatan manusia pun terancam [1].


Lingkungan Hidup


Setiap tahun, sekitar 13 juta ton plastik berakhir di laut dan sebanyak 570 ribu ton plastik masuk ke lautan Mediterania. Angka tersebut akan bertambah secara eksponensial akibat pandemi [2].


Menurut Laurent Lombard, “...sebentar lagi kita akan memiliki lebih banyak masker daripada ubur-ubur di Mediterania” [2]

Dalam kunjungan baru-baru ini, kelompok konservasionis di Hong Kong menemukan 70 sampah masker di sepanjang 100 meter garis pantai. Seminggu kemudian, 30 masker lainnya hanyut ke laut. Beberapa masker yang ditemukan pun terlihat baru. Menurut Gary Stokes, pendiri LSM lingkungan hidup Oceans Asia, timnya telah menemukan masker di sepanjang garis pasang. Dengan populasi sebesar tujuh juta penduduk, situasi pandemi ini akan memperparah polusi plastik [4].


Margasatwa


Kaki burung camar terperangkap dalam masker sekali pakai

Sumber: RSPCA [5]


Selain itu, masker yang terbuang ke laut juga mengancam habitat binatang laut yang sering terperangkap dengan sampah plastik. Lebih parahnya, sampah plastik tersebut dapat disalah artikan sebagai makanan oleh binatang laut.

Pada bulan Juli lalu, seekor burung camar di kota Essex ditemukan sulit berjalan karena kakinya terikat tali telinga masker. Menurut observasi tim The Royal Society for the Prevention of Cruelty in Animals (RSPCA), burung camar tersebut hanya bisa melompat, tersandung dan jatuh. Adam Jones, inspektur di RSPCA, menyatakan bahwa “tali telinga masker melilit di kaki burung camar itu” sehingga kakinya memar. Akhirnya, burung tersebut dibawa ke rumah sakit hewan. Walaupun maskernya berhasil dilepas, burung camar tersebut mengalami trauma dan sementara harus dimasukkan ke dalam sangkar burung di tempat perlindungan hewan [5,6].


Gambar dari dekat kaki burung camar bengkak karena tertangkap dalam masker sekali pakai

Sumber: RSPCA [5]


Masalah Kesehatan dan Keselamatan


Hamparan Sungai Cisadane dipenuhi dengan limbah medis seperti masker, pakaian hazmat dan alat suntik. Dengan menyebarnya virus COVID-19, limbah medis semakin menumpuk di TPA Cipeucang. Pada bulan Mei lalu, dinding TPA bahkan runtuh sehingga berton-ton sampah jatuh ke perairan Cisadane sehingga risiko banjir bagi warga yang bermukim di sisi sungai Cisadane pun meningkat akibat penyumbatan aliran air. Hal ini menimbulkan ancaman ganda bagi warga yang bergantung pada sungai Cisadane untuk mandi dan mencuci pakaian. “Jujur saya masih takut, tapi saya harus mencuci di sini. Saya harap tidak akan terjadi masalah,” kata Eka Purwanti, salah satu warga yang tinggal sekitar sungai Cisadane [7].


Selain itu, risiko terinfeksi petugas sampah dan pejalan kaki pun semakin tinggi akibat pemakaian masker sekali pakai apalagi mengingat virus corona dapat bertahan selama tujuh hari [3].


Di negara Kolombia, seorang pekerja Departemen Limbah Padat Kabupaten Maury dinyatakan meninggal, seorang lagi saat ini dirawat di rumah sakit dan karyawan lainnya saat ini dikarantina setelah tertular virus corona. Untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut, daerah itu dibersihkan tetapi beberapa karyawan dinyatakan positif bahkan walaupun pembersihan telah dilakukan [8].

Baca Juga: Melindungi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Apa yang harus dilakukan


Meskipun terdapat pilihan masker pakai ulang, sebagian besar masyarakat tetap memilih untuk menggunakan masker sekali pakai karena diberitakan memberikan perlindungan yang lebih tinggi, dapat dibeli dengan harga yang terjangkau dan nyaman untuk dipakai [1].


Sarung tangan bekas ditemukan di jalan

Sumber: Krzystof Hepner [10]


Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif dari pemakaian masker [3]:


1. Gunakan masker pakai ulang (tanpa filter sekali pakai) dan cuci menggunakan mesin cuci setelah pakai dengan mengikuti instruksi yang tertera.


2. Selalu bawa cadangan masker pakai ulang. Jika terjadi sesuatu pada masker yang dipakai, terdapat masker cadangan sehingga tidak perlu membeli masker sekali pakai.


3. Jika perlu menggunakan masker sekali pakai, buang dengan benar. Lepaskan masker menggunakan tali telinga. Hindari menyentuh bagian luar masker. Letakkan di dalam kantong plastik biodegradable dan buang ke tempat sampah yang memiliki tutup. Gunting loop telinga di kedua sisinya. Pilihan yang lebih baik adalah membuangnya ke tempat sampah khusus limbah medis.


4. Jangan mendaur ulang masker sekali pakai. Ini bisa menjadi bahaya utama bagi pekerja limbah.


5. Yang terpenting, jangan membuangnya sembarangan! Ini juga merupakan bahaya utama bagi manusia dan hewan.


Kesimpulan


Mengenakan masker adalah hal yang harus dilakukan selama pandemi ini, tetapi perlu diingat dampak lingkungan dari penggunaan alat perlindungan diri. Selalu cuci masker dengan benar menggunakan mesin. Apabila menggunakan masker sekali pakai, selalu ingat untuk membuangnya dengan benar sesuai petunjuk. Yang terpenting, jangan membuangnya sembarangan.


Selama pandemi ini berlangsung, sangat penting untuk bersikap secara bertanggung jawab demi kebaikan sosial dan keselamatan diri dan keluarga terdekat. Selalu gunakan masker dan stay safe.

Apa yang kamu ingin kami bicarakan selanjutnya? Tulis di forum kami DISINI.

Sumber:

[1] https://theconversation.com/single-use-masks-could-be-a-coronavirus-hazard-if-we-dont-dispose-of-them-properly-143007

[2] https://www.theguardian.com/environment/2020/jun/08/more-masks-than-jellyfish-coronavirus-waste-ends-up-in-ocean

[3] https://theconversation.com/coronavirus-face-masks-an-environmental-disaster-that-might-last-generations-144328

[4] https://www.energylivenews.com/2020/03/17/coronavirus-face-masks-could-have-a-devastating-effect-on-the-environment/

[5] https://www.bbc.com/news/uk-england-essex-53474772

[6] https://www.greenmatters.com/p/face-masks-wildlife

[7] https://www.thejakartapost.com/news/2020/09/01/in-indonesia-coronavirus-floods-cisadane-river-with-extra-hazard-medical-waste.html

[8] https://www.columbiadailyherald.com/story/news/local/2020/09/23/maury-county-solid-waste-employee-dies-covid-19/3495825001/


Gambar:

[9] https://unsplash.com/photos/f5iisZrj10s

[10] https://unsplash.com/photos/X41Z4aZ0OOE


#zerowaste #polusiplastik #maskerpakaiulang #selamatkanlautankita #covid-19 #coronavirus

© 2019 by PROJECT PLANET. Most Rights Reserved.