Search

Studi Baru pada Kelelawar Menunjukkan Perubahan Iklim Terhubung dengan COVID-19. Begini Alasannya.

Penemuan-penemuan membuat tumbuhnya kekhawatiran akan probabilitias perubahan iklim menimbulkan pandemi lain di masa depan yang makin memungkinkan.

Kelelawar diketahui sebagai pembawa patogen zoonosis, termasuk Virus Corona.

Sumber: Unsplash [4]


To read this article in English, click here


Sebuah studi terbaru menemukan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan populasi kelelawar meningkat pesat. Hal ini mengkhawatirkan para ilmuwan karena kelelawar diketahui memiliki daya tahan tubuh yang spesifik sehingga berpotensi menyebarkan penyakit virus pada manusia, termasuk virus corona SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan pandemi Covid-19 saat ini [1].

Baca juga: Pandemi Coronavirus & Perubahan Iklim: Hubungan yang Tak Terbantahkan

Perubahan pada Habitat


Seperti yang diketahui, perubahan iklim telah mengakibatkan peningkatan karbon dioksida, suhu global serta cuaca dan pola hujan yang semakin sulit diprediksi. Hal ini juga menyebabkan perubahan skala besar pada jenis vegetasi sebagaimana terjadi di wilayah Asia Tenggara.

Perubahan bioma di kawasan Asia Tenggara.

Sumber: CarbonBrief [5]


Gambar di atas menunjukkan bahwa bioma Myanmar, Laos, dan wilayah China selatan telah mengalami perubahan dari semak tropis pada tahun 1901-1930 menjadi hutan daun tropis pada tahun 1990-2019. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang cocok untuk banyak spesies kelelawar yang sebagian besar hidup di hutan sehingga wilayah tersebut menjadi hotspot untuk peningkatan kekayaan spesies kelelawar. Telah terbukti bahwa setidaknya 40 spesies kelelawar telah pindah ke wilayah tersebut [2].

Myanmar, Laos, dan wilayah selatan China telah menjadi hotspot baru untuk banyak spesies kelelawar.

Sumber: UH News [6]


Kesempatan untuk Evolusi dan Transmisi


Berpindahnya kelelawar mempunyai risiko membawa 100 jenis virus corona dan rasa kekhawatiran timbul karena hal tersebut memungkinkan adanya evolusi serta transmisi penyakit virus pada manusia [1].


Akan tetapi, para ahli menganggap diperlukan studi lebih lanjut yang mempertimbangkan faktor lain seperti interaksi antara manusia dan alam liar serta kerusakan habitat alami kelelawar akibat aktivitas manusia yang tak terkendali. Terlepas dari itu, terbukti bahwa perubahan iklim adalah salah satu faktor penyebab timbulnya virus covid-19 [3].


Antara lain, ada baiknya apabila aksi iklim dilakukan lebih giat apalagi dengan adanya risiko terhadap kesehatan manusia.

Baca juga: Makan Produk Lokal + Kurangi Makan Daging = Diet Ramah Lingkungan

Sumber:

[1] https://www.cbsnews.com/news/climate-change-coronavirus-bats-study/

[2] https://www.carbonbrief.org/scientists-sceptical-of-new-bat-study-linking-climate-change-to-covid-19-emergence

[3] https://www.the-scientist.com/news-opinion/are-climate-driven-shifts-in-bat-diversity-to-blame-for-covid-19--68446


Foto:

[4] https://unsplash.com/photos/yLSKobI0XYA

[5] https://www.carbonbrief.org/scientists-sceptical-of-new-bat-study-linking-climate-change-to-covid-19-emergence

[6] https://www.hawaii.edu/news/2021/02/05/climate-change-bats-covid19/


#perubahaniklim #covid-19 #penyakitzoonosis #satwaliar

0 comments

© 2020 by PROJECT PLANET. Most Rights Reserved.